Motivasi Bisnis – Percaya Diri Sebagai Penjual

motivasi bisnis

Jika ada orang yang bilang ke saya,”SARJANA AGAMA KOK….JUALAN ?

Maka, saya akan menjawab,” WHY NOT ??

Ini pengalaman pribadi saya. Saya alumni Sekolah Islam Madrasah Aliyah + Lulusan Pesantren, dan melanjutkan studi di sebuah Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri di Jakarta yang sangat terkenal.

Meskipun pernah mengajar di sebuah Madrasah, pernah mengajar di Sekolah Dasar Islam, bahkan pernah mengajar agama di sebuah Universitas Swasta Bonafide di bilangan Jakarta Barat. (Sekarang di tengah kesibukan sebagai praktisi bisnis online, saya masih menyempatkan mengajar di majlis pengajian dan mengisi khutbah jumat di beberapa masjid).

Tapi Sekarang kegiatan siang hari saya adalah sebagai penjual atau pedagang, dan bercita-cita menjadi pebisnis. Ini sebagai motivasi bisnis bagi saya pribadi.

Kok, Sarjana Agama atau Ustadz atau Guru Agama Mau Jualan Sih ?

Ya emangnya kenapa bro ? Apakah dilarang ? Jualan kan suatu usaha yang halal.

Motivasi Bisnis Sebagai Penjual Dianjurkan Dalam Islam

Gmana dengan Anda yang masih kurang percaya diri, jika dicap sebagai penjual/pedagang/seller, apalagi jualannya secara online.

Mari kita lihat dalil-dalil nash di bawah ini :

Q.S. Al-Baqarah : 275

قَالُوا إِنَّمَا الْبَيْعُ مِثْلُ الرِّبَا ۗ وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا ۚ

“Keadaan mereka yang demikian itu, adalah disebabkan mereka berkata (berpendapat), sesungguhnya jual beli itu sama dengan riba, padahal Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Kalau jelas-jelas Al-Quran bilang, JUAL BELI ITU HALAL, kenapa kita tidak percaya diri dalam berjualan ?

Sabda Rasulullah SAW :

الْبَيِّعَانِ بِالْخِيَارِ مَا لَمْ يَتَفَرَّقَا فَإِنْ صَدَقَا وَبَيَّنَا بُورِكَ لَهُمَا فِى بَيْعِهِمَا وَإِنْ كَذَبَا وَكَتَمَا مُحِقَتْ بَرَكَةُ بَيْعِهِمَا

“Orang yang bertransaksi jual beli masing-masing memilki hak khiyar (membatalkan atau melanjutkan transaksi) selama keduanya belum berpisah. Jika keduanya jujur dan terbuka, maka keduanya akan mendapatkan keberkahan dalam jual beli, tapi jika keduanya berdusta dan tidak terbuka, maka keberkahan jual beli antara keduanya akan hilang”. (Muttafaqun ‘alaih)

Juga pada hadits berikut ini :

أَطْيَبُ الْكَسْبِ عَمَلُ الرَّجُلِ بِيَدِهِ وَكُلُّ بَيْعٍ مَبْرُورٍ

“Sebaik-baik pekerjaan adalah pekerjaan seorang pria dengan tangannya dan setiap jual beli yang mabrur.” (HR. Ahmad, Al Bazzar, Ath Thobroni dan selainnya, dari Ibnu ‘Umar, Rofi’ bin Khudaij, Abu Burdah bin Niyar dan selainnya).

Motivasi Bisnis Sebagai Penjual Dari Rasulullah SAW

Selanjutnya, mari kita lihat sejarah Nabi kita Muhammad SAW :

  1. Di usia 9 tahun, sosok Nabi Muhammad kecil sudah bekerja sebagai penggembala kambing.
    2. Usia 12 tahun, Nabi Muhammad sudah belajar berdagang menjual barang dagangan pamannya.
    3. Usia 17 tahun, Nabi Muhammad sudah mandiri dalam berbisnis dengan menjadi manajer bisnis dari modal orang lain.
    4. Di usia 25 tahun, Nabi Muhammad menjadi pebisnis mandiri, bahkan bisnis beliau bukan hanya tingkat lokal kota Mekkah tapi sudah sampai manca negara sebagai Eksportir.
    5. Beliau membangun ekonomi dengan berbisnis sampai usia 37 tahun.
    6. Setelah Usia 37 tahun, Nabi Muhammad mulai mengurangi kegiatan bisnis dan banyak memikirkan masalah sosial kemasyarakatan serta berkhalwat ke gua Hira. Sampai kemudian di usia 40 tahun beliau meneriwa wahyu pertama dan diangkat menjadi Nabi dan Rasul.

Yang perlu kita garis bawahi, bahwa dari umur 12 – 37 tahun Nabi Muhammad berprofesi sebagai pedagang/penjual/seller. Itu berarti selama 25 tahun Nabi Muhammad membangun ekonomi untuk diri dan keluarganya.

Kemudian, Saya berfikir,”bagaimana jika Nabi Muhammad hidup di zaman era digital ini seperti kita ini ya ?
Bisa jadi, beliau MENJADI PEDAGANG ONLINE, yaitu pedagang yang cara penjualannya dipasarkan secara ONLINE.

Fikiran saya semoga menjadi motivasi bisnis bagi anda yang membaca postingan ini.

Gimana sudah mantap menjadi Pedagang khususnya pemasaran online ?

Kalau kita mengaku ummat Nabi Muhammad dan menganggapnya sebagai Uswatun Hasanah (suri tauladan), Ya harusnya kita percaya diri sebagai pedagang/penjual.

Marilah kita setel niat baik-baik,”Nawaitu, saya niat BEKERJA sebagai PENJUAL yang JUJUR dan TERPERCAYA, untuk memenuhi kebutuhan diriku dan keluargaku, LILLAAHI TA’ALA untuk MENGGAPAI RIDHA-MU YA ALLAH.”

Niat inilah salah satu motivasi bisnis bagi saya dalam membangun usaha dalam kehidupan harian.

Tangerang, 12 Januari 2016

 

 

Related posts

Leave a Comment